powered by ★bintangkwecil
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SASTRA. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

CUPLIKAN JABANG BUKU



Saya mau berbagi tentang sebuah cerita. Honestly, ini adalah bagian dari kegagalan saya untuk membuat novel. Jabang buku ini gugur di tahun 2011, hanya berselang beberapa bulan dari prediksi kelahirannya. Setting tempatnya di Roma, salah satu negara impian yang berat untuk dikunjungi (But I wish I could be there, someday). Jabang buku ini adalah pelampiasan energi negatif yang menjadi pergumulan saya kala itu. Unlucky, saya kesulitan dalam menerjemahkan ide otak untuk disajikan dalam bahasa 'manusia'. Yeah, I am an alien.

Jabang buku gugur karena beberapa 'pembaca awal' berkomentar bahwa mereka tidak mengerti apa yang saya maksud. Penyebab lain gugurnya jabang buku adalah (percaya nggak percaya) beberapa cerita di jabang buku ini menjadi kenyataan di dalam kehidupan saya. Akhirnya, saya menyerah karena takut jika endingnya akan menjadi nyata. Hahahaha...

Marguerita adalah part jabang buku yang terinspirasi dari pertemuan saya dengan (alm) Bapak di "DreamLand" (Somewhere Only We Know) :D. Kala itu saya seperti berdialog dengannya dalam imajinasi (bahasa saya susah untuk dimengerti secara nalar ya? Hahaha)

Beliau adalah inspirator yang meneror saya untuk terus menulis. Memaksa saya menjadi arsitek di dalam imajinasi sendiri. Tonight, I miss him so much. Then, happy reading all :)

MARGUERITA

Aku melihatnya. Sosok yang aku harap menjadi mempelai laki – laki di altar nanti. Dia berdiri di sana. Diam. Tanpa ekspresi. Dadaku sesak, ada kerinduan yang menyeruak, membesar seperti karet yang direndam air tanah atau seperti kehamilan yang memasuki fase 9 bulan 9 hari 9 jam. Aku membeku dari ujung kaki ke atas. Ah, apa Bandung Bondowoso  salah mengutuk orang?

‘Hei aku bukan Roro Jonggrang . I need to move.’

Aku ingin berteriak tapi ada sumbatan di tenggorokan. Ah, apa aku harus memanggil petugas kebersihan untuk membersihkannya? Siapa tahu sejak hidup di Jakarta beberapa tahun, di dalam tenggorokanku bersemayam sampah – sampah yang dibuang tidak pada tempatnya.

Laki – laki itu masih berdiri di sana. Memperhatikan keberadaanku. Pandangan matanya mengikutiku, bahkan setiap nafasku. Dia masih mengenakan jas abu – abu seperti terakhir kali kami bertemu. Hanya saja wajahnya terlihat lebih muda dan bercahaya. Cakep. He makes me melt.

Aku mengatur pernapasan dan berusaha mengendalikan keadaan. Kebekuan yang meracuniku perlahan meluntur. Beraturan. Kakiku terasa mulai menghangat, tenggorokanku rasanya bebas dari hambatan. Ini pasti pertolongan petugas Tol. Hmm, satu yang aku khawatirkan, headline di koran Jakarta besok tentang kenaikan harga tol karena petugasnya sudah go international, meng-cover area Roma juga. Aku bisa membayangkan reaksi yang akan muncul. Cacian dan kritikan sana sini.

Aku melangkah perlahan menuju ke arahnya. Lelaki itu sekarang tepat berada di depanku. Aku dengan mudah dapat menatap matanya, karena perbedaan tinggi kami tidak sejauh dulu. Tatapannya masih sama. Hangat dan penuh kasih. Aku tidak dapat membendung aliran air mata. Ah, ini keteledoran petugas penjaga Pintu Air Katulampa.

“Daddy...”

Aku menubruk dan termewek – mewek di dadanya. Dia memelukku erat, sangat erat sampai aku susah bernafas. Nyaman dan tenang sekali. Dagunya sesekali menekan kepalaku dan menggosok – gosokkannya. Kebiasaannya ketika aku masih kecil. Ya, ini lelakiku yang hilang 16 tahun yang lalu. Aku tidak salah lagi.

Kami duduk berdua di sebuah kursi kayu. Pemandangan yang membentang di depan kami adalah taman yang dipenuhi dengan bunga Marguerite. Bunga berwarna putih, kecil, dengan tinggi 0,5 meter dan diameter antara 4 – 6 cm.  Angin bereuforia dengan mengalunkan nada biola yang begitu indah. Ah, angin melirik genit ke arahku.

Lelakiku berdiri dan melangkah beberapa meter di depanku. Mengambil sekuntum bunga Marguerite dan memberikannya padaku. Hmm, so sweet Dad ! Aku tersenyum. Aku merasakan pipiku terbakar, tapi jangan ada seorang pun yang memanggil Dinas Pemadam Kebakaran. Ini hanya ekspresi tersipuku. Dia masih mengingat bunga kesukaanku. Senangnya...

Aku memandang wajahnya tanpa berkedip dan dia membelai rambutku. Kumis dan jenggotnya masih tumbuh. Aku tertawa kecil melihatnya, seperti parutan kelapa. Jakunnya yang bergerak turun naik, seperti lift. Aku ingat ketika itu aku mencari – cari jakunku dan Daddy tertawa. Katanya, itu salah satu pembeda antara laki – laki dan perempuan.

“Kamu sekarang seperti Marguerita ini. Kecil. Memiliki kelopak selapis. Menggemaskan tetapi terlihat rapuh.”

Lelakiku menyentil setangkai Marguerita di tanganku dan kelopaknya gugur. Aku terhenyak. Lelakiku melingkarkan tangannya di bahuku. Erat dan mesra. Aku termenung. Dad, apa yang ingin engkau katakan? Sikapnya yang lembut ini biasanya berujung dengan pernyataan tegas seorang hakim, jaksa penuntut, ah bukan, pelatih mungkin lebih tepat.

“Perempuan kecilku adalah pemberani. Aku didik dia menjadi seorang yang tangguh. Dia adalah rumput, walaupun kecil dan sederhana, tetapi akarnya kuat masuk ke dalam tanah. Tahan terhadap badai dan angin, tidak takut hujan dan petir. Hijau dan mempesona dengan kesegarannya.”

Daddy, terdiam. Menatap wajahku. Ah, rasanya seperti ditusuk. Aku membayangkan jika matanya berubah menjadi merah seperti monster, aku pasti menjerit ketakutan. Hmm, bagaimana kalau dia menyeringai dan taringnya keluar. Ah, tidak !!! Aku  menutup mata. Bergidik ngeri. Lelakiku membelai pipiku lembut. Pelan – pelan aku membuka mata, ah, masih lelakiku.

“Hidup ini adalah pertandingan, maka jadilah pemenang dari setiap masalah. Kuncinya : hadapi dan selesaikan, bukan menghindar.”

“Tapi Dad, ini terlalu berat...”

“Terkadang manusia menderita itu karena kelekatannya terhadap sesuatu, benda, tempat atau orang. Jika berpindah, maka manusia akan merasakan kehilangan dan ketidaknyamanan. Tuhan memberikan setiap hal dalam hidup bukan tanpa alasan. Ada kalanya DIA memberikan hal tersebut agar menjadi sebuah pelajaran. Tuhan menciptakan pelangi sehabis hujan, pagi setelah malam, kebahagiaan dan kesedihan. Orang – orang yang hadir dalam hidup kita, datang dan pergi, nikmati sayang. Jangan lupa bersyukur.”

Aku menunduk. Berat untuk mengiyakan semua petuahnya. Aku manusia, hatiku bukan hati malaikat untuk bisa melakukan itu semua. Aku duduk di pangkuan Daddy sambil menyandarkan kepalaku di dadanya. Itu kebiasaanku ketika sudah tidak dapat berkutik dengan kata – katanya.

“Vinccy, kembalilah jadi perempuan kecilku. Menarilah bersama kupu – kupu, menyanyilah bersama belalang dan katak. Daddy merindukan keceriaanmu lagi.” Tangannya mengusap rambutku lembut. Ah, aku merasakan ketenangan yang beberapa tahun ini telah hilang.

“Iya, Dad.”

Aku menjawab lirih, hampir tertidur. Ah, tidak. Aku mulai menyadari ini hanya mimpi. Aku mempererat genggamanku di bajunya. Berharap ketika aku terjaga nanti dia akan tetap aku genggam. Aku takut. Ketakutan yang luar biasa. Dad, jangan pergi lagi. God, give me more time to be with him.

~`aR~

Sabtu, 10 November 2012

Jakarta, 10 November 2012

Catatan Kecil 10 November 2012,

Kata orang, hari ini hari Pahlawan. Dimana Pahlawan identik dengan pejuang, komandan, prajurit, jajahan, fighting.

2012 ini kita sudah merdeka...jadi sudah sewajarnya jika ingin menambahkan kata merdeka, proklamasi, bendera sendiri, negara sendiri.

Aku masih menatap podium sambil menggenggam peci hitam. Jauh di sana, sudah lama kamu mengibarkan bendera, bahkan sudah mulai membangun kabinet pembangunan. Aku tersenyum, tanpa kegetiran lagi. Bukan gentar untuk berpidato jika kamu melihat aku masih termangu di depan podium. Hanya merasa mungkin kita bukan pejuang, tapi pengecut atau pengkhianat?

Pengecut karena keok dengan keadaan. Pengkhianat karena mengkhianati diri sendiri atas panji – panji yang pernah dicanangkan. Ada yang lebih gagal dari ini semua?

Untung di dunia ini cuma diciptakan satu aku, satu kamu. Coba bayangkan jika ada seribu aku dan seribu kamu di luar sana. Anarkisme karena keegoisan pasti sudah membabi buta. Menculik Garis – Garis Besar Haluan Negara. Pelanggaran HAM dimana – mana.
Hari ini, aku masih saja bertanya : apa benar kita pernah jadi pejuang? Yakin bukan pengecut atau pengkhianat?

Apa karena kita sempat bercengkerama di 17 Agustus lantas itu menyempurnakan bahwa kita pejuang? Apa karena sama – sama berada di dalam keluarga purnawirawan lantas kita pejuang?

Mungkin kita terhipnotis dengan Merah Putih, 17 Agustus atau 10 November dan segala atribut perjuangan lainnya. Mungkin kita hanya mendompleng istilah. Mungkin juga suatu kebetulan bukan sinkronisasi semesta.

Aku menghela nafas sambil melipat benderaku. Tertunduk di depan podium. Mengakui kebohonganku.

Aku bukan komandan, bukan prajurit, aku hanya fenomena alam yang kebetulan berpapasan. Lantas kamu? Tetap bersikeras beridentitas pejuang?

Aku di sini, melihatmu menata negara yang sedang kamu bangun. Memimpin rapat – rapat kenegaraan dan event – event nasional. Melihat gurat – gurat senyum yang entah berapa lama tidak pernah muncul di wajahmu. Mungkin waktu itu kita terlalu lelah untuk merebut daerah jajahan. Terlalu bersemangat untuk memenangkan konflik antar RAS. Kita lupa menaruh jari telunjuk di sudut bibir dan tarik ke atas. Maaf, saat itu aku masih merasa menjadi pejuang bukan ilmuwan yang menemukan rumus pelukis senyuman.

Apa rasanya merdeka? Bisa kamu ceritakan? Aku lupa untuk mencecap rasa. Bahagia dengan susunan kabinet reformasimu? Aku lupa definisi bahagia setelah menyadari perang sudah usai dan kita berjuang untuk negeri masing – masing.

Rekan sejawat
(Aku *pura – pura* lupa siapa Komandan, siapa Prajurit),
Apa kabar lagu kebangsaan? Dulu, jika salah satu dari kita amnesia karena musuh semakin merajalela, maka yang lain harus mengingatkannya dengan lagu kebangsaan. Hanya saja kita salah perhitungan, ternyata kita berdua sama – sama amnesia. Mungkin itu sebabnya, kita membentuk gerakan separatisme dan mer-de-ka.
Aku letakkan lencana di sudut meja dan semangkuk sayur asam. Jika sewaktu – waktu kamu singgah, ini bukti aku ‘pernah’ tidak kemana – mana. Aku mau mengkristalkan diri di antara gugusan bintang. Dunia ini membuatku sulit bernafas.

Fakething...!!!eh, Fightshit...!!! Ah apa namanya salam kita? Aku terlalu lelah untuk mengucap.

  Aku pamit.

-Bukan Pejuang-
~`aR~



Jumat, 27 Mei 2011

SAJAK UNTUK TUAN

Neraka, 27 Mei 2011

Untuk yang paling saya benci, Tuan Ba*****n,

Tuan Ba*****n,
Saya membenci Anda sampai ke ubun – ubun. Hati saya panas dan cinta kasih yang diajarkan Tuhan menguap. Anda memang lihai dan berpengalaman. Terlebih untuk merusak hidup seseorang. Sungguh hidup ini hanya permainan bukan sandiwara. 

Tuan Ba*****n,
Neraka mungkin tidak ada bagi Anda, maka Anda bisa berbuat seenaknya. Heh, asal Anda tahu saja, saat ini saya membuktikan neraka itu nyata. Terpanggang saya di sini dengan siksaaan yang tiada habisnya. Sementara Anda masih saja berkutat dengan keduniawian, melupakan saya.

Tuan,
Aspirin tidak akan mempan membunuh sakit yang saya derita. Pening kepala saya seperti ribuan kata masuk melalui satu jalan. Berdesakan dan merangsek masuk ke dalam. Mungkin menurut kamus Anda istilahnya cenat cenut dan saya menyebutnya cenat penat. Yah, Anda dan saya memang berbeda. Hahaha....Maapkan ketololan saya.

Tuan,
Malam ini untuk kesekian kali badan saya demam. Akhhhhhhhhh, rasanya benar – benar sakit kepala.

Anda itu a****g dan Ba*****n. A****g dan Ba*****n yang saya sayangi sampai sekarang. 



NB : beberapa kata diedit untuk memenuhi etika kesopanan

~`aR~

Senin, 23 Mei 2011

PERON SETELAH SENJA

Uban – uban di rambutnya tertangkap lampu kereta ketika rangkaian gerbong itu memasuki stasiun Gambir. Aku tersenyum getir. Beberapa helai rambut tua itu pernah dia minta untuk dieksekusi tapi aku menolak. Aku menyukai kealamiannya. Setiap perubahan fisiknya yang menjadikan orang melotot tajam atau mendengus kesal. Perut yang membuncit, seperti beruang kutub. Kulitnya yang menghitam seperti lebah yang setahun berjemur di padang Alaska. Helai – helai rambut yang memutih dan aku bisa memanggilnya kakek sihir. Kumis dan jenggotnya seperti  ornamen lukisan di sebuah rumah. Nilai artistiknya tergantung dari kacamata pengamat.

Lelaki itu duduk di sebelahku sekarang. Berjarak kurang lebih 30 cm. Dia tak pernah menatapku dan sibuk dengan jari – jarinya. Lantas, aku? Aku hanya memainkan botol air mineral sambil sesekali melihatnya. Memastikan bahwa dia adalah dia, bukan siluman laba – laba atau kalajengking jantan. HP-nya bergetar di dalam saku celana dan dia tetap saja diam. Aku tersenyum getir lagi.

Seorang ibu tua menghampiriku. Dia hanya melirik sekilas. Ibu itu menyodorkan tiket jurusan Solo. Ah, seorang penumpang kereta Argo Lawu rupanya. Aku mengantarnya kepada petugas peron karena aku sendiri tidak tahu di jalur berapa kereta akan datang. Aku kembali duduk di sebelahnya. Berjarak kurang lebih 25 cm. Suasana masih saja dingin. Entah karena malam atau kebekuan yang terjadi di sela – sela kami. Aku mengusap hidungku dan menghela nafas lega. Syukurlah, nafasku belum menjadi gletser. Aku merapatkan cardigan pinkku. Kado anniversary pertama kami. Aku tersenyum getir untuk ketiga kalinya. 




Petugas peron dan ibu tadi melintas di hadapan kami. Ah..ibu. Sosok yang menguatkan kami ketika peleburan dua negara terjadi. Kini mereka bersekutu dengan takdir dan kami tidak mampu berdiri. Riuh suara mereka ketika menceritakan masa kanak kami masih terasa. Aku masih ingat bocoran yang aku dapat. Sambal mentah dan daging dekat tulang. Aku menang dan kamu kebingungan. Hmmm, apa kabar mereka di sana? Apakah mereka merasa kegaduhan hati kita? 




Aku pun teringat dengan bapak – bapak kita. Benarkah mereka reuni di surga sana? Kita belum pernah bertanya pendapat mereka. Aku yakin mereka lebih bijaksana. Aku pun berharap mereka ikut andil dalam rencana pembukaan usaha dua keluarga. Bukankah itu cita – cita kita? Selalu kamu diam saja. Ups, aku lupa. Sambungan telepati kita sudah kadaluwarsa. 
Aku tidak tahu harus berbicara apa. Aku rasa dia pun juga sama. Kesatuan dari kami juga sudah hilang. Membentuk gerakan separatisme. Tidak ada lagi otonomi hati. Hanya saja kami tidak tahu kapan akan sanggup berdiri di podium, mengenakan peci hitam dan membacakan proklamasi. Aku pun melipat benderaku. Sengaja tidak ingin mempublikasikan bahwa hari ini aku adalah presiden di hidupku sendiri. Aku meremas kertas perjanjian hubungan bilateral yang dia minta. Aku pernah berjanji akan menandatanganinya ketika kami sama – sama merdeka. Janji yang aku benci sekarang ini. 

Seharusnya kami merasakan euforia, tetapi aku tidak. Malah mengheningkan cipta dan menghitung laron yang jatuh di pangkuan. Aku menyentilnya satu per satu. Total ada tujuh. Aku berdiri dan berjalan mondar mandir di hadapannya. Tidak tahu harus bagaimana. Orang – orang mulai memperhatikanku. Rambut singa, mata merah, nanar pandangan. Lalu aku berhenti dan mematung. Dia menengadahkan kepala.

“ Apa? “ tanyanya dengan suara tertahan.

Aku Aku duduk di pangkuannya. Dia diam saja. Aku menggengam tanganya. Dia pun diam. Dalam hitungan detik aku berdiri dan merobek kertas perjanjian bilateral kami. Matanya menutup sekejap dan kembali menatapku kesal. Aku membalas pandangannya dengan sikap menantang. Aku sering kali menyiksanya dengan sikap ini. Ahhh, siapa yang tidak meradang jika takdir menghadang?

“Kenapa kamu begitu keras?” Sebuah pertanyaan retoris diajukannya.

Aku hanya meremas pundaknya, dia masih menatapku dengan pandangan bertanya. Aku tidak bisa memulai hubungan bilateral ini. Prinsipku, jika merdeka, biar aku mengurusi negaraku tanpa intervensi negara lain. Aku pun menentang otonomi daerah yang pernah dia tawarkan. 

Demikian kami yang tidak lagi menjadi kami. Kami bergandengan tangan dan berjalan pulang. Kebisuan menjadi pihak ketiga. Biarkan saja pertanyaan – pertanyaan menggeliat di kepala. Aku hanya ingin menikmati berjalan di sebelahnya tanpa perlu bersuara. Jangan dengarkan isak tangisan, itu hanya fatamorgana malam yang kalian dengar. Tak perlu juga pikirkan headline apa yang akan muncul di tabloid halaman depan. Sungguh kami sedang enggan untuk peduli pada wartawan maupun hujan, serta kilatan – kilatan yang membuatku ketakutan. 

Terimakasih mantan.

~`aR~

Minggu, 22 Mei 2011

ELEGI UNTUK IBU


Ibu,
Ombakkah yang menelan bapak?
Sebab di sekujur jasadnya tak ku temukan bekas kapak
Ah, aku jadi gagu melihatnya tergeletak

Ibu,
Sakitkah kematiannya kala itu?
Sebab dalam ingatanku telinganya luka berdarah
dan di luar sana diberitakan beberapa tulangnya patah
Lidahku kelu untuk membantah

Ibu,
Masihkah dia mendengarku
Meski terbujur kaku dan membisu

Ibu,
Atau jangan – jangan karena kenakalanku
Bapak akhirnya pergi berlalu
Di usianya yang ketigapuluh tujuh 

Ibu,
Bagaimana hidup kita setelah ini
Bapak benar – benar sudah mati
Lihatlah adik, menjadi yatim di usia dini
Dan masihkah kau menjadi seorang istri?

Ibu,
Di pangkuanmu aku mengadu
Besok hari terakhir aku harus membayar buku
Dan adik merengek meminta susu
Sampai kapan aku harus menunggu
Kau pun tahu warisan ayah hanya paku dan kayu

Ibu,
Jangan terus menangis
Aku pun luka teriris – iris
Tak menyangka ini menjadi kado ultahmu paling tragis

Tuhan,
Di depan altarmu aku bersujud
Namun menyakiti hati ibu bukan maksud

 ~`aR~

CERPEN : SIAPA AKU ?

Hari ini kau mempertanyakan identitasku. Ah, kenapa kamu menanyakan di depan kopiku? Lihat, mereka lantas mengernyitkan dahi dan mengelompokkan diri. Kelompok gula mendapat tempat di dasar cangkir. Mereka memasang radar Thompson buatan Perancis yang sering digunakan oleh TNI AU Indonesia. Kelompok kopi memasang muka innocent, sok cuek, padahal hati dag dig dug menunggu pengakuanku. Kelompok creamer menduduki posisi paling atas dan memasang telinga kuat – kuat.  

Kamu lekat menatapku dan aku berusaha menjawab melalui pandangan kita. Nafas – nafas yang aku hela adalah jawaban. Ah, pori – pori kulitmu menutup. Mereka enggan memberitahumu siapa aku. Pupil matamu meredup seolah tak mau tahu. Siapa yang bisa membantuku? Hatimu? Itu sudah lama aku tinggalkan, kamu pun tahu itu. Otakmu berkeliaran dan menyerang habis – habisan. Cukup !!! Urat nadiku memberontak, hingga menimbulkan benjolan – benjolan di kulit tangan dan kaki. Kamu bergidik ngeri. 

Aku menatap kopiku. Mengaduk tiga kelompok itu agar melebur menjadi satu. Gula, kalian tahu, radarmu hanya berfungsi 12 jam, sementara jawaban yang kamu tunggu mungkin belum muncul. Kopi, tetaplah polos dan mengeluarkan pahitmu. Creamer, telinga kirimu tidak utuh. Rusak karena dentingan gelas yang pecah di sebelahmu. Lebih baik kalian melebur dan menjadi minumanku. Aku meneguknya. Rasanya seperti empat senar dalam biola, GDAE, yang digesek menggunakan bow  dan menghasilkan harmoni syahdu.

Jemarimu mencengkeram bahuku kuat. Aku tersenyum. Masih saja kamu tidak tahu siapa aku. Tidakkah kamu ingat senyumku? Menyambutmu ketika keringat membanjiri kaos putihmu. 

Aku menyodorkan semangkuk sayur asem. Kamu mencium aromanya dan kembali menatapku. Maaf, mungkin sayur ini terlalu asam karena beberapa tetes keringatku ikut teraduk. Menjinjing keranjang sayur dari pasar cukup menguras energiku. Apalagi aku sempat berdebat dengan tukang sayur karena menipuku dengan asam muda. Bukan masalah rupiah, tetapi kepuasanmu ketika menyeruput kuah sayur asam ini memang tidak bisa dibeli dengan kepingan mata uang manapun.

“Aku pengen nambah”

Katamu waktu itu sambil tersipu. Dan dalam sekejap kamu menghabiskan sayur asemku lengkap dengan kerupuk – kerupuknya. Tersenyum kekenyangan. Sekali lagi, aku tertawa geli karena keringat berlomba membanjiri wajahmu yang legam. 

Kali ini kamu melirik laptopku. Memutar sebuah lagu. Kamu mengernyitkan dahi. Menikmatinya tanpa mempedulikanku. Seolah ini lagu yang baru pertama kali kamu dengarkan. Aku menyebutkan judulnya. Kembali tatapanmu tegang. Padahal ini lagu darimu. Alter Bridge. Masihkah kau ingat itu? Kamu malah menarik tanganku dan bertanya hal yang sama.

Aku menyeruput kopiku. Hanya tersisa pahitnya saja. Aku sendiri tidak tahu menghilang kemana gula tadi. Aku memandangmu.

Aku si jelita di mata ibu

Anak kecil yang termangu 
karena rindu dipangku bapakku

Sang gadizz yang pernah menginspirasimu
menulis sebuah lagu 

Masihkah kau bertanya siapa aku???


(kata Bang Rhoma : TER-LA-LU)


~`aR~

SALAH INGAT

Sepi adalah bercengkerama denganmu melalui mimpi
Sendu adalah mengeja senja tanpa rindu
Musikalitas nafas membeku di ujung ubanmu
Membentuk orkestra yang aku namakan pilu
Aih, ingin aku bergelayut manja di bahumu
Sambil berhitung jumlah tumbuhan di jenggot dan kumis tipis
Dan,
Tatapan matamu melahirkan seribu partitur nada tanpa suara
Maka sunyi adalah di sini

Ketika tiba di pertengahan hari
Hanya gerimis kecil yang merintih
Angin pun membawa lari putik - putik
Serta helai – helai rambut yang mengingat jari – jarimu
Sebelum mataku menjadi sayu
Senandungmu kala itu :
Nina bobo oh nina bobo
Kalau tidak bobo
Digigit beruk

Aku terhenyak !!!
Lantas tersedu :
Ternyata laki – laki itu bukan ayahku.

: tapi mantan lelakiku.

~`aR~